Pemain PERSIJA musim 2012/2013

Hanya jeda sehari setelah manajemen mengumumkan Feri Komul gelandang serang eks PSAP Sigli kelahiran 1 Maret 1987 menjadi bagian skuad Macan Kemayoran, Kamis (4/10) manajemen kembali merilis beberapa pemain lokal, dan satu pemain asing yang direkrut, serta pemain yang resmi dilepas.

Gustavo Lopez menjadi kuota pemain asing yang akan memperkuat Persija, setelah sebelumnya Ferry Paulus mengungkapkan “Persija hanya akan menggunakan 3 pemain asing untuk musim 2012-2013,”
Dengan bergabungnya Gustavo, maka Robertino Pugliara, Precious Emujeraye, Jeong Kwang Sik, 3 pemain asing Persija musim lalu tidak diperpanjang kontraknya. Gustavo Lopez melengkapi trio pemain asing dari Amerika Latin yang dimiliki Persija, setelah sebelumnya Pedro Javier, dan Fabiano Beltrame dipertahankan.
Untuk pemain lokal, setelah sebelumnya Feri Komul dipastikan bergabung, nama-nama lain dipastikan bergabung seperti Daryono (Diklat Salatiga) yang berposisi kiper, Barkah Crustian (Persepam Pamekasan) kelahiran 17 April 1990,berposisi bek tengah, Anandito Wahyu (Mitra Kukar) Striker kelahiran 13 April 1988, dan Abduh Lestaluhu jebolan SAD Uruguay, kelahiran 16 Oktober  1993 yang musim sebelumnya memperkuat Persis Solo berposisi bek kiri.

Selain itu, ada satu pemain dari Persija u21 yang di tarik untuk masuk skuad Persija yaitu Gilang Harahap yang berposisi sebagai pemain bertahan. (www.jakmania.org)

Mungkinkah dengan materi pemain seperti ini PERSIJA dapat melampaui hasil musim kemarin???
#Masa bodo materi pemain, masa bodo masalah manajemen, yang gw tunggu cuma PERSIJA, yang gw nanti cuma PERSIJA, dan yang gw dukung cuma PERSIJA, PERSIJA, PERSIJA…

Mungkinkah The Jak dan Viking Berdamai 2

tanganSadar bahwa perubahan tidak akan terjadi sebelum kita berupaya untuk itu (seperti yang terdapat dalam salahsatu hadist Nabi), Jakmania mencoba mencari jalan keluar dengan terlebih dahulu menawarkan perdamaian kepada Viking. Gubernur DKI yang juga pembina Persija, Bpk Sutiyoso, menginstruksikan kepada Bpk IGK Manila untuk menjadi mediator perdamaian antara Jakmania dengan Viking. Digagaslah sebuah pertemuan di bilangan Puncak untuk mewujudkan hal itu. Pihak-pihak yang berkepentingan seperti pentolan Viking Heru Joko, Manajer Persib serta Pemda Jabar telah dihubungi untuk membicarakan masalah itu. Sayangnya upaya ini masih belum membuahkan hasil, karena salahsatu pihak masih enggan membicarakan bentuk konkrit dari perdamaian itu sendiri.

Berlarutnya pertikaian antara Jakmania dengan Viking ternyata berimbas kepada tim yang didukungnya sendiri. Pemukulan terhadap Ismed Sofyan di Bandung, penimpukan kepada pemain Persija ketika dijamu tuan rumah sehingga membuat pertandingan sempat terhenti merupakan efek domino dari fanatisme sempit seperti ini. Puncaknya terjadi pada partai terakhir penyisihan liga Djarum kemarin. Jakmania yang tidak terima tim kebanggaannya diperlakukan seperti itu mencoba memberikan pelajaran berharga bahwa fanatisme sempit itu tidak berguna karena semua orang pun bisa melakukannya, bahkan lebih. Mundurnya Persib dari partai terakhir karena dipukulnya dua orang pemain Persib sebagai balasan dari apa yang dialami Ismed di Bandung, merupakan ekses negatif dari pertikaian antar suporter yang telah berimbas kepada tim itu sendiri. Viking yang dinilai masih kekanak-kanakan dan Jakmania yang kadang terlalu berlebihan dalam membalas aksi, seperti terjebak dalam lingkaran setan yang tidak akan pernah ada habisnya kalau tidak di-cut dari sekarang.

Padahal banyak pihak yang sudah gerah akan hal ini, baik di dalam tubuh Jakmania maupun Viking sendiri. Tak kurang dari aparat kepolisian Bandung, pembina Persib dan bahkan pelatih Persib sendiri, Indra Thohir menilai bahwa kelakuan Viking telah merusak kondisi mental timnya. Mundurnya Persib sebelum bertanding adalah “aib” terbesar yang pernah dialami tim kebanggaan warga Bandung ini, begitu kata salahsatu bobotoh Persib. Tidak berbeda jauh dengan The Jakmania, banyak publik Jakarta yang menyayangkan permusuhan dengan Viking karena keamanan mereka selama menggunakan mobil berplat B di Bandung menjadi sedikit terancam, terlebih ketika Persib bertanding. Belum lagi perang caci maki baik di media massa maupun internet yang jelas-jelas sudah mengarah kepada fanatisme berlebihan.

Kalau sudah begini, mau dikemanakan sepakbola kita? akankah terus dibiarkan begini? bukankah sepakbola (seperti yang saya katakan tadi di atas) adalah alat pemersatu bangsa? kemanakah rasa persaudaraan kita sesama anak bangsa? kalau dari kacamata agama (kebetulan mayoritas pendukung Persija dan Persib adalah sama-sama muslim juga), kemanakah rasa ukhuwah Islamiyah kita? Padahal dalam Al-Qur’an (maaf sedikit tekstual) disebutkan:

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujuraat : 10)

Akankah ayat di atas mengilhami kita untuk mewujudkan perdamaian? cuma hati anda yang bisa menjawab! Tapi satu hal, untuk mewujudkan hal itu diperlukan keinginan yang kuat, ketulusan yang besar serta kedewasaan sikap dari kedua belah pihak untuk saling memaafkan dan menghentikan permusuhan. Mari kita realisasikan hal ini supaya tidak sebatas wacana belaka. Dimulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, dan mulai dari sekarang!

SATU INDONESIA SATU

Mungkinkah The Jak dan Viking Berdamai

Ditulis Oleh Ikbal
Monday, 19 December 2005

ImagePagelaran PEBY III memajakmania-vikingng sudah berakhir dan melahirkan sejarah baru dengan keberhasilan PSMS Medan keluar sebagai juara untuk yang kedua kalinya. Tetapi ada kenangan manis yang tersisa dari penyelenggaraan PEBY III kemarin, yaitu persahabatan yang makin hangat dan erat antara Jakmania sebagai tuan rumah dengan para suporter tamu seperti Panser Biru dan Snex dari Semarang, Persikmania dari Kediri, dan teman-teman dari Kampak FC Jakarta. Akankah persahabatan ini dapat mengilhami lahirnya perdamaian antara Jakmania dengan Viking dari Bandung?


Bagi anda yang sempat menyaksikan pertandingan-pertandingan pada Piala Emas Bang Yos ke III kemarin di stadion Lebak Bulus, mungkin akan melihat sedikit pemandangan yang berbeda. Apa sebab? warna oranje yang biasanya mendominasi pemandangan di sekitar stadion Lebak Bulus (terlebih ketika Persija Jakarta tampil), kini terlihat lebih variatif dengan terdapatnya warna biru, hijau dan ungu. Ya! itulah warna kostum dari para suporter tamu yang sempat mewarnai pagelaran PEBY III kemarin. Hadirnya teman-teman dari Panser Biru, Snex, Persikmania dan Kampak FC Jakarta memberikan nuansa tersendiri dalam atmosfir pertandingan PEBY. Suasana hangat dan penuh persahabatan terlihat di dalam maupun di luar stadion. Saling sapa, memberi salam maupun saling bertukar vandel merupakan hal yang mencengangkan bagi mereka yang terbiasa menyaksikan perkelahian antar suporter. Sungguh sebuah pemandangan indah yang jarang ditemui dalam perhelatan sepakbola nasional. Praktis tidak ada gesekan berarti antar suporter di PEBY kemarin karena satu sama lain saling menjaga ketentraman dan keamanan baik selama pertandingan maupun setelah pertandingan berakhir.

Sekedar flash back ke belakang, mungkin di antara kita masih ada yang ingat kalau hubungan antara Jakmania dengan Panser Biru pernah sedikit tegang pada tahun lalu. Untunglah ketegangan itu tidak berlanjut karena satu sama lain saling mengontrol diri dan tidak larut dalam masalah tersebut. Hadirnya Snex, salah satu kelompok suporter fanatik PSIS Semarang yang coba menengahi ketegangan antara Jakmania dengan Panser Biru, ternyata berhasil mencairkan suasana. Snex berupaya agar Jakmania dengan Panser Biru tidak saling bermusuhan. Oleh karena itu Snex mencoba mengkonsolidasikan kembali hubungan antar keduanya dengan berlandaskan pada kesamaan tujuan, yaitu tekad untuk memperbaiki persepakbolaan negeri ini supaya lebih aman dan beradab. Alhamdulillah upaya itu menuaikan hasil, dan kami sangat berterima kasih kepada teman-teman Snex dan Panser Biru yang telah berpikir jauh ke depan untuk lebih mementingkan perdamaian ketimbang menuruti ego belaka. Karena pada dasarnya sepakbola adalah sebagai alat pemersatu, bukannya alat yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa ini.

Kalau hubungan antara Jakmania dengan Panser Biru bisa lebih direkatkan oleh Snex, tidak demikian halnya dengan hubungan antara Jakmania dengan Viking. Bomber yang oleh Jakmania diharapkan bisa memberikan kontribusi berarti dalam mewujudkan perdamaian dengan Viking, ternyata tidak mempunyai kekuatan yang mumpuni untuk melakukan hal itu. Hal ini dapat dimengerti karena jumlah Bomber hanya sedikit sekali dibandingkan dengan Viking, dan Bomber terlihat lebih elitis sehingga militansinya dipertanyakan.

Sejarah The Jakmania

dul

Sejarah
Sejarah The Jakmania Cetak E-mail
Ditulis Oleh adminnya
Friday, 06 October 2006
Image The Jakmania berdiri sejak Ligina IV, tepatnya 19 Desember 1997. Markas dan sekretariat The Jakmania berada di Stadion Menteng. Setiap Selasa dan Jumat merupakan rutinitas The Jakmania baik itu pengurus maupun anggota untuk melakukan kegiatan kumpul bersama membahas perkembangan The Jakmania serta laporan-laporan dari setiap bidang kepengurusan.

Tidak lupa juga melakukan pendaftaran bagi anggota baru dalam rutinitas tersebut. Ide ini muncul dari Diza Rasyid Ali, manajer Persija waktu itu. Ide ini mendapat dukungan penuh dari Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Sebagai pembina Persija, memang Bang Yos (sapaan akrabnya)sangat menyukai sepakbola. Ia ingin sekali membangkitkan kembali sepakbola Jakarta yang telah lama hilang baik itu tim maupun pendukung atau suporter.

Pada awalnya, anggota The Jakmania hanya sekitar 100 orang, dengan pengurus sebanyak 40 orang. Ketika dibentuk, dipilihlah figur yang dikenal di mata masyarakat. Gugun Gondrong merupakan sosok paling ideal disaat itu. Meski dari kalangan selebritis, Gugun tidak ingin diberlakukan berlebihan. Ia ingin merasa sama dengan yang lain.

Pengurus The Jakmania waktu itu akhirnya membuat lambang sebuah tangan dengan jari berbentuk huruf J. Ide ini berasal dari Edi Supatmo, yang waktu itu menjadi Humas Persija. Hingga sekarang, lambang itu masih dipertahankan dan selalu diperagakan sebagai simbol jati diri Jakmania.

Seiring dengan habisnya masa pengurusan, Gugun digantikan Ir. T. Ferry Indrasjarief. Ia lebih akrab disapa Bung Ferry. Masa tugas Bung Ferry adalah periode 1999-2001 dan kembali dipercaya untuk memimpin The Jakmania periode 2001-2003, 2003-2005.

Lelaki tinggi, tampan dan sarjana lulusan ITI Serpong inilah yang memimpin The Jakmania hingga 3 periode. Dibawah kepemimpinan Bung Ferry yang juga pernah menjadi anggota suporter Commandos Pelita Jaya, The Jakmania terus menggeliat. Organisasi The Jakmania ditata dengan matang. Maklum, Bung Ferry memang dibesarkan oleh kegiatan organisasi. Awalnya, sangat sulit mengajak warga Jakarta untuk mau bergabung.

Beruntung, pengurus menemukan momentum jitu. Saat tim nasional Indonesia berlaga pada Pra Piala Asia, mereka menyebarkan formulir di luar stadion. Dengan makin banyaknya anggota yang mendaftar sekitar 7200 anggota, dibentuklah Kordinator Wilayah (Korwil).

Dan sampai pendaftaran terakhir saat ini terdapat lebih dari 30.000 anggota dari 50 Korwil. Setelah diadakan Pemilihan Umum Raya 2005, untuk memilih Ketua Umum yang baru, akhirnya terpilihlah Ketua Umum Baru periode 2005-2007 yaitu Sdr. Hanandiyo Ismayani atau yang bisa dipanggil dengan Bung Danang.

Panasnya Ibukota

Jakarta ibukota negara indonesia di bulan ramadhan tahun ini menjadi sangat panas mungkin dikarenakan global warming atau juga bisa jadi karena banyaknya orang-orang yang tidak berpuasa di bulan ramadhan ini. Contohnya di jalan-jalan bisa kita lihat banyak sekali orang yang sepertinya sudah tidak merasa malu lagi makan, minum, merokok, dll padahal ia sadar kalau saat itu banyak orang-orang yang sedang berpuasa. Mungkin ini salah satu tanda bahwa kiamat kian dekat dengan ibukota Jakarta.

UNTUK ITU KITA SEBAGAI WARGA JAKARTA SEHARUSNYA MAU BERTANGGUNGJAWAB UNTUK MENJAGA IBUKOTA TERCINTA INI…!!!

OK JAK’S…!

karakter_animasi

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!